Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rentetan Hari Raya Galungan

1. TUMPEK WARIGA
Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

2. ANGGARA KASIH JULUNGWANGI
Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

3. BUDA PON SUNGSANG
Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma).
Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma.
Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

4. SUGIAN JAWA
Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

5. SUGIAN BALI
Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

6. PENYEKEBAN
Hari Redite, Paing, Wuku Dungulan, atau 3 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Galungan yang menggoda manusia untuk berbuat adharma. Galung dalam Bahasa Kawi artinya perang; Bhuta Galungan adalah sifat manusia yang ingin berperang atau berkelahi.
Manusia agar menguatkan diri dengan memuja Bhatara Siwa agar dijauhkan dari sifat yang tidak baik itu. Secara simbolis Ibu-ibu memeram buah-buahan dan membuat tape artinya nyekeb (mengungkung/ menguatkan diri).

7. PENYAJAAN
Hari Soma, Pon, Wuku Dungulan, atau 2 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Dungulan yang menggoda manusia lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Dungul dalam Bahasa Kawi artinya takluk; Bhuta Dungulan adalah sifat manusia yang ingin menaklukkan sesama atau sifat ingin menang.
Manusia agar lebih menguatkan diri memuja Bhatara Siwa agar terhindar dari sifat buruk itu. Secara simbolis membuat jaja artinya nyajaang (bersungguh-sungguh membuang sifat dungul).

8. PENAMPAHAN 
Posting : LYAKBALI
Hari Anggara, Wage, Wuku Dungulan, atau 1 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Amangkurat yang menggoda manusia lebih-lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Amangkurat dalam Bahasa Kawi artinya berkuasa. Bhuta Amangkurat adalah sifat manusia yang ingin berkuasa.
Manusia agar menuntaskan melawan godaan ini dengan memuja Bhatara Siwa serta mengalahkan kekuatan Sang Bhuta Tiga (Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat).
Secara simbolis memotong babi “nampah celeng” artinya “nampa” atau bersiap menerima kedatangan Sanghyang Dharma. Babi dikenal sebagai simbol tamas (malas) sehingga membunuh babi juga dapat diartikan sebagai menghilangkan sifat-sifat malas manusia.
Sore hari ditancapkanlah penjor lengkap dengan sarana banten pejati yang mengandung simbol “nyujatiang kayun” dan memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma yang dituangkan dalam Catur Weda di mana masing-masing Weda disimbolkan dalam hiasan penjor sebagai berikut:
lamak simbol Reg Weda,
bakang-bakang simbol Atarwa Weda,
tamiang simbol Sama Weda, dan
sampian simbol Yayur Weda.
Di samping itu penjor juga simbol ucapan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning.
Pada sandyakala segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan.

9. GALUNGAN
Hari Buda, Kliwon, Wuku Dungulan, merupakan perayaan kemenangan manusia melawan bentuk-bentuk adharma terutama yang ada pada dirinya sendiri. Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan di Pura, Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu.

10. MANIS GALUNGAN
Hari Wraspati, Umanis, Wuku Dungulan, 1 hari setelah Galungan, melaksanakan Dharma Santi berupa kunjungan ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan syukur atas kemenangan dharma dan mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.
Malam harinya mulai melakukan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga, mohon agar kemenangan dharma dapat dipertahankan pada diri kita seterusnya.
Pemujaan di malam hari selama sembilan malam sejak hari Manis Galungan sampai hari Penampahan Kuningan disebut sebagai persembahyangan Nawa Ratri (nawa = sembilan, ratri = malam) dimulai berturut-turut memuja Bhatara-Bhatara: Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa).

11. PEMARIDAN GURU
Hari Saniscara, Pon, Wuku Dungulan, 3 hari setelah Galungan merupakan hari terakhir Wuku Dungulan meneruskan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga khususnya Bhatara Brahma.

12. ULIHAN
Hari Redite, Wage, Wuku Kuningan, 4 hari setelah Galungan, Bhatara-Bhatari kembali ke Kahyangan, persembahyangan di Pura atau Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih atas wara nugraha-Nya.

13. PEMACEKAN AGUNG
Hari Soma, Kliwon, Wuku Kuningan, 5 hari setelah Galungan. Melakukan persembahan sajen (caru) kepada para Bhuta agar tidak mengganggu manusia sehingga Trihitakarana dapat terwujud.

14. PENAMPAHAN KUNINGAN
Hari Sukra, Wage, Wuku Kuningan, 9 hari setelah Galungan. Manusia bersiap nampa (menyongsong) hari raya Kuningan. Malam harinya persembahyangan terakhir dalam urutan Dewata Nawa Sanga, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Tri Purusha (Sisa, Sada Siwa, Parama Siwa).

15. KUNINGAN
Hari Saniscara, Kliwon, Wuku Kuningan, 10 hari setelah Galungan. Para Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan sampai tengah hari.
Manusia mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas wara nugrahanya berupa kekuatan dharma serta mohon agar kita senantiasa dihindarkan dari perbuatan-perbuatan adharma.
Secara simbolis membuat sesajen dengan nasi kuning sebagai pemberitahuan (nguningang) kepada para preti sentana agar mereka mengikuti jejak leluhurnya merayakan rangkaian hari raya Galungan – Kuningan.

Selain itu menggantungkan “tamiang” di Palinggih-palinggih sebagai tameng atau perisai terhadap serangan kekuatan adharma.

16. PEGAT UWAKAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Paang, satu bulan atau 35 hari setelah Galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian Galungan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan. Berata-berata nguncal balung berakhir, dan selanjutnya roda kehidupan terlaksana sebagaimana biasa.


0

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama, yakni manis.
Pelaksanaan Perayaan Galungan sendiri di Indonesia lebih di dasarkan pada kisah ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih.
Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).
Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakanbyakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
Secara filosofis makna Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan dan Kuningan hendaknyalah dilaksanakan dengan hati dan perasaan yang damai dan tentram. Kemenangan Dharma atas Adharma bermakna dalam konteks, kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, siapa kita dan untuk apa kita dilahirkan, bagaimana kita berperan dalam masyarakat untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan serta berperan aktif dalam dinamika sosial di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan kita.
Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran diri yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan, manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati walau digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma di dalam dirinya maupun di luar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) di dalam dirinya dan di luar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita).
Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada di dunia, ada dalam diri kita umat manusia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi di dunia bisa berjalan. Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan.
Dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :
“Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika”.
Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.
Demikian tulisan tentang Galungan dan Kuningan ini, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata saya mengucapkan :

Sumber 
Penulis : I Wayan Adi Sudiatmika

0

Catur Purusa Artha dan Tri Hita Karana

Pendahuluan
Setiap orang yang normal, mempunyai tujuan hidup. Bagi yang memeluk agama Hindu, ada empat tujuan hidup manusia, yang disebut dengan Catur Purusa Artha. Yang tergolong Catur Purusa Artha adalah : Dharma, Artha, Kama dan Moksa.

Dharma adalah tingkah laku yang mulia dan budi luhur, suci, senantiasa berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama (Hindu), sebagai landasan yang utama, untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan lahir bathin. Di dalam pustaka Wrehaspati Tattwa, didapatkan sloka, sebagai berikut :
Silam yajnas tapas, danam prawrajya bhiksu ewa ca, yogas ca’pi samasena, dharmasya eko winirnayah.
Sloka tersebut dapat diartikan sebagai berikut :


·                     Sila
ngarannya mangraksa solah rahayu
(Sila artinya berpegang teguh pada tingkah laku yang baik).

·                     Yajna
ngarannya manghanaken homa 
(Yadnya artinya melakukan korban suci).

·                     Tapa
ngarannya umatindriyanya tan wineh ring wisayanya 
(Tapa artinya mampu mengendalikan indrianya, tidak mengumbar hawa nafsu pada objeknya).

·                     Dana
ngarannya weweh 
(Dana artinya dapat bersedekah dengan tulus ikhlas).

·                     Prawrajya
ngarannya wiku anasaka 
(Prawrajya artinya menjadi orang suci yang telah matang).

·                     Bhiksu
ngarannya diksita 
(Bhiksu artinya hidup suci).

·                     Yoga
ngarannya manghanaken samadhi 
(Yoga artinya mampu melaksanakan samadhi/memusatkan pikiran).

·                     Samasena
dharmasya eko winirnayah 
(Semuanya itu adalah satu aturan dari dharma).

Maka itu hidup yang berpegang pada Dharma, merupakan suatu landasan pokok dalam tata kehidupan “Dharmo raksatah raksitah“; siapa yang membela/melindungi Dharma, ia akan dibela dan dilindungi oleh Dharma.
Ikang dharma ngaran ika hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining perahu an hetuning banyaga entasing tasik (Sarasamuscaya).
Adapun dharma itu adalah suatu jalan untuk menuju sorga (mencapai kesempurnaan hidup), bagaikan perahu yang menjadi alat bagi pedagang menyebrangi lautan.
Artha, ialah harta benda untuk memenuhi keperluan hidup. Yang termasuk artha ada 3 bagian, yaitu :

·                     Bhoga, segala keperluan akan pangan/minum tiap-tiap hari yang cukup.
·                     Upabhoga, mencukupi keperluan tentang sandang/pakaian dan perhiasan.
·                     Paribhoga, terpenuhinya perumahan, pendidikan dan hiburan.

Unsur-unsur artha yang tersebut di atas, dapatlah diperinci, sebagai berikut :

·                     Wareg, perut kenyang, cukup makan/minum yang berguna bagi tubuh.
·                     Wastra, terpenuhinya pakaian/perhiasan.
·                     Wisma, terpenuhinya rumah yang sehat (asta kosala).
·                     Waras, terpenuhinya pendidikan, sehingga menjadi pandai, terampil dan bijaksana.
·                     Waskita, cukup hiburan dan pikiran yang tenang.
 -
Kama, ialah dorongan untuk memenuhi hidup. Dorongan itu pada umumnya ada 2 bagian, yaitu :

1.                 Dorongan mempertahankan hidup.
2.                 Dorongan untuk melanjutkan keturunan.

Dorongan untuk mempertahankan hidup, adanya suatu keinginan adanya rasa bebas dari rasa lapar, haus, panas, dingin, sakit dan sebagainya. Sedangkan dorongan untuk melanjutkan keturunan, adalah dengan memenuhi nafsu untuk kawin, agar terpenuhinya keturunan.
Dalam Sarasamuscaya, disebutkan :
Ikang artha kama lamakana Dharma juga ulahakena rumuhun, haywa palangpang lawan Dharma
Artinya :
Jika untuk memdapatkan artha dan kama, hendaknyalah didapat dengan menjalankan Dharma dan jangan melanggar Dharma.
-
“Yan artha kama sadhyan, Dharma juga lekasana rumuhun, niyata katemwang artha kama mene, Yan paramartha si ketemwaning artha kama, dening anasar sakeng Dharma”
Artinya :
Jika menginginkan artha dan kama, maka Dharma hendaknya dilaksanakan terlebih dahulu, niscaya seketika akan mendapatkan artha kama. Bila tidak berdasarkan Dharma, jelas tidak mendapatkan artha dan kama, oleh karena menyalahi Dharma.
 -
Moksa, adalah kebahagian yang kekal dan abadi, yang mana Atma telah bersatu dengan Paramatma. Itulah yang menjadi tujuan hidup sebagai umat Hindu, yang umum disebutkan dengan “Moksartham Jagathitaya ca iti Dharmah“, artinya tujuan hidup Agama (Hindu) adalah untuk mencapai Jagathita (kesejahtraan di dunia) dan bersatunya Atma dengan Paramatma.

Dharma Artha Kama dan Moksa, tidak dapat dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, maka sering Catur Purusa Artha itu disebut dengan Catur Warga.
Di dalam ajaran agama Hindu, kita diwajibkan untuk beryadnya, yang sering disebut dengan ” Cakra Yajna”. Cakra Yajna inilah yang mengajarkan manusia untuk memutar Cakra Yadnya itu. Barang siapa yang tidak memutar ajaran Cakra Yajna, sesungguhnya orang tersebut disebut dengan orang jahat. Maksud dari ajaran inilah Tuhan dengan yadnya adanya manusia, maka manusia wajib bhakti beryadnya kepada Tuhan; manusia hidup dengan yadnyanya alam, maka manusia juga harus beryadnya pada alam; manusia hidupnya baru berarti jika ada orang lain. Maka landasan dasar dari ajaran ini disebut dengan ‘Rta’ dan ‘Dharma’. Rta adalah hukum alam, yang menata keteraturan dinamika alam, sedangkan Dharma adalah hukum kebersamaan, yang menuntun kehidupan manusia untuk mencapai tertib individu dan tertib hidup bersama.

Maka dengan ajaran Cakra Yajna itu manusia akan sadar, disamping dirinya ada manusia lainnya, demikian juga ada alam lingkungan dan yang paling utama dan Maha Kuasa serta Maha Esa adalah Tuhan. Dengan adanya suatu kesadaran adanya Tuhan, adanya sesama manusia dan adanya lingkungan alam, akan membangun pula suatu kesadaran, mutlak adanya hubungan yang harmonis dengan ke tiga unsur itu untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia ini.

Mencapai kehidupan yang berbahagia dengan melakukan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam lingkungan, inilah yang disebut “Tri Hita Karana“.
-
Tri Hita Karana
Agama Hindu yang ajarannya bersumber pada kitab suci Sruti maupun Smreti, banyak mengajarkan jalan untuk mencapai keharmonisan, baik kepada yang lebih tinggi “Catur Guru” terhadap sesama dan terhadap alam lingkungan. Ada dengan disebut Catur Marga, Astanggayoga, Panca Yadnya dan lain sebagainya.

Sedangkan istilah Tri Hita Karana, belum pernah kita jumpai dalam pustaka-pustaka suci, Weda Sruti, Smreti dan kitab sastra-sastra lainnya. Namun banyak orang sudah menyampaikan dengan gencar-gencarnya tentang Tri Hita Karana. Walaupun dapat dimengerti bahwa istilah Tri Hita Karana itu berasal dari bahasa Sansekerta, yakni Tri = tiga (3); Hita = bahagia, sejahtra; Karana = penyebab. Tri Hita karena sebagai istilah berarti tiga penyebab kebahagiaan. Ajaran Tri Hita Karana inilah yang mengajarkan untuk mengadakan hubungan yang harmonis dengan pencipta Tuhan Yang Maha Esa, hubungan harmonis manusia dengan sesama ciptaan Nya dan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan sekitar. Konsep ajaran ini telah tertuang dalam kitab “Pancamo Weda” Bhagawadgita III.10, ke tiga unsur itu disebut dengan Prajapati (Tuhan), Praja dan Kamadhuk.

Jadi istilah Tri Hita Karana adalah sebutan baru, tetapi bukan ajaran yang baru dalam agama Hindu.
Untuk itu marilah merunut ke masa lalu, yaitu dengan mulainya umat Hindu mempunyai suatu lembaga, pada tahun 1958/1959, dengan nama Parisada Dharma Hindu Bali. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1963/1964, muncullah lembaga baru dikalangan umat Hindu, Lembaga tersebut bernama ” Badan Perjuangan Umat Hindu Bali” yang disingkat menjadi BPUHB, yang mendapingi Parisada Dharma Hindu Bali, pada Mahasabha selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma dan sekarang menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya ada seorang tokoh umat Hindu, dari kalangan TNI AD, Bapak Drs. I Wayan Merta Sutedja, BA., beliau banyak sekali membantu Parisada dalam memberikan ceramah-ceramah di Bali maupun di luar Bali, sering menyebut Tri Hita Karana. Pada saat itu beliau menyebutkan Tri Hita Karana, dengan Urip, Bhuwana, Manusa. Selanjutnya berubah menjadi Widhi, Bhuwana dan Manusia, tetapi beliau tetap menyebut sumber ajaran itu adalah Bhagawadgita III.10, yakni Prajapati (pencipta alam semesta beserta isinya), Praja unsur manusianya dan Kamadhuk adalah simbul alam semesta, yang disimbulkan dengan sapi betina, yang menghasilkan susu tidak habis-habisnya.
Saha yajnah prajah srestwa, purowaca prajapatih, anena prasawisya dhwam, esa wostwista kamadhuk.

Pada tahun 1969 di Universitas Udayana tepatnya di Aula Fakultas Sastra, diadakan seminar tentang Tri Hita Karana. Pembawa makalah pada saat itu Bapak Gusti Ktut Kaler (almarhum), yang merumuskan Tri Hita Karana, adalah Parhyangan, Pawongan dan Palemahan.

Pada tahun 1986 Parisada Hindu Dharma Indonesia, menugaskan Institut Hindu Dharma Denpasar (UNHI sekarang), mengadakan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu, dananya dibantu oleh Pemda Bali. Ketika itu yang membawakan makalah Bapak Nengah Sudharma, BA, yang tetap menyitir Bhagawadgita III. 10, namun untuk memudahkan mengingat dan bersifat populer dengan Parhyangan, Pawongan dan Palemahan, walaupun jiwanya adalah Prajapati, Praja dan Kamadhuk.

Pada hakekatnya Tri Hita Karana itu hendaknya sebagai landasan filosofi hidup, dalam mewujudkan sikap hidup berbakti kepada Tuhan, harmonis dengan sesama dan harmonis pula dengan lingkungan.
-
Desa Adat dan Tri Hita Karana
Sejak jaman Bali Kuno (abad 9), masyarakat Bali telah mengenal masyarakat desa yang disebut “karaman”. Tempat atau wilayah di mana kraman berada disebut “desa” atau “pakraman”. Desa Pakraman itu pada awalnya adalah suatu kelompok cikal bakal atau keturunan pendiri pemukiman yang sejak awal telah mendiami daerah tertentu, dalam perkembangannya Desa Pakraman disebut juga dengan Desa Adat. Kata “adat” bukanlah kata yang berasal dari Indonesia atau bahasa daerah yang ada di Indonesia, melainkan berasal dari bahasa Arab, yang berarti kebiasaan. Di Bali kata adat rupa-rupanya mulai dikenal sejak jaman Belanda, sekitar permulaan abad ke-20, yang diartikan sebagai suatu kebiasaan yang telah melembaga di masyarakat yang berlangsung turun-temurun.. Demikian pula masalah Desa Adat dipopulerkan sejak jaman pemerintahan Belanda di Bali dan untuk membedakannya dengan Desa Dinas yang dibentuk oleh Belanda.

Sementara itu masyarakat pada umumnya merasakan adat sebagai salah satu bentuk hukum, seperti halnya hukum tertulis yang berlaku, tetapi merupakan pelaksanaan dari ajaran agama Hindu yang dianutnya, bahkan lebih dari pada itu sebagai penerapan ajaran agama Hindu itu sendiri yang harus mereka penuhi.

Dengan adanya pengertian yang berbeda itu tidaklah menguntungkan bagi usaha-usaha pembinaan adat yang akan dilakukan. Dualisme pengertian adat, akan dapat menimbulkan masalah-masalah baru yang muncul kepermukaan dalam bentuk sengketa-sengketa adat.

Akhirnya kekhawatiran itu dijernihkan oleh Parisada Hindu Dharma yang merupakan Majelis Agama Hindu yang tertinggi, bahwasanya adat Bali itu adalah adat yang bersumber kepada ajaran agama Hindu.
Lebih-lebih dewasa ini telah banyak dilakukan pembinaan oleh Majelis Desa Pakraman, Parisada Hindu Dharma, Kantor Kementerian Departemen Agama, hasil yang dicapai sudah semakin tampak.

Oleh karena adat adalah merupakan ajaran Agama Hindu, maka konsepsi Tri Hita Karana, sangat erat kaitannya dengan Desa Adat, sesuatu Desa dapat disebut dengan Desa Adat, jika unsur-unsur Tri Hita Karana terpenuhi. Oleh karena itu setiap yang disebut dengan Desa Adat, pasti adanya : Unsur Parhyangan (Kahyangan Tiga); Unsur Pawongan (krama desa) dan Unsur Palemahan (wilayah Desa).
-
Tri Hita Karana Mensukseskan Tujuan Hidup
Tri Hita Karana sebagai upaya untuk menciptakan tiga wujud hubungan hidup sebagai suatu kesatuan, yang dapat membentuk iklim hidup yang disebut Catur Purusa Artha. Tiga wujud hubungan yang membangun iklim hidup itu tercipta oleh sikap hidup yang seimbang, antara berbakti kepada Tuhan, mengabdi kepada sesama manusia dan memelihara kesejahtraan lingkungan alam. Dengan adanya suatu keharmonisan hidup itu jelaslah tujuan hidup tercapai.

Untuk mencapai hal itu sebaiknya jangan menunda lagi melaksanakan keseimbangan hidup ini semasih jiwa ada dalam badan. Dalam kitab Brahma Purana, ada disebutkan, sebagai berikut :

Dharma Artha Kama Moksanam sarira sadhanam.
(Badan adalah alat untuk mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa).

Oleh karena itu kesempatan yang amat baik dalam hidup ini untuk melakukan perbuatan yang baik, dengan hormat dan bhakti kepada Tuhan, hubungan harmonis dengan sesama dan harmonis dengan lingkungan.
Hubungan yang harmonis dengan Tuhan, ada sembilan cara, yaitu :
Srawanam Kirtanam Wisnoh Smaranam Padasewanam Arcanam Wandhanam Dasyanam Sakhyanam Atmaniwedanam.

1.                 Srawanam, dengan jalan mendengarkan ajaran kesucian.
2.                 Kirtanam, dengan jalan menyanyikan kidung suci keagamaan.
3.                 Smaranam, dengan selalu mengingat Tuhan.
4.                 Padasewanam, dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.
5.                 Arcanam, dengan memuja Tuhan melalui media arca dan pratima.
6.                 Wandhanam, dengan jalan membaca sloka/mantra , sastra agama.
7.                 Dasyanam, dengan jalan mengabdi atau melayani kepada Tuhan.
8.                 Sakhyanam, dengan selalu berhubungan dekat dengan Tuhan.
9.                 Atmaniwedanam, dengan jalan penyerahan diri kepada Tuhan.

Demikianlah yang dapat disampaikan saat ini semoga di lain waktu dapat kita sempurnakan.



Sumber
Penulis : I Wayan Adi Sudiatmika

0


Denkayu Delodan - © Copyright 2012 - All rights reserved
Powered by Blogger