Tampilkan postingan dengan label Rerainan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rerainan. Tampilkan semua postingan

Makna Pagerwesi


Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak.
Hari Raya Pagerwesi  jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon, Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.
Makna Pagerwesi
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.
Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperingati dan dirayakan sebagai anugerah Sanghyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi, diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada wuku Sinta.
Oleh karena itu rangkaian hari-hari dari Saraswati ke Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:
  1. Setelah Saraswati, esoknya hari Minggu, adalah hari Banyupinaruh, di mana pada hari itu umat Hindu di Bali melakukan pensucian diri dengan mandi di laut atau di kolam mata air. Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan yang sudah dianugerahkan oleh Sanghyang Widhi dapat digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Trihita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.
  2. Kemudian esoknya, hari Senin disebut hari Somaribek, yang dimaknai sebagai hari di mana Sanghyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia.
  3. Selanjutnya, hari Selasa, disebut Sabuh Mas, yang juga tidak lepas kaitannya dengan Saraswati, di mana umat manusia akan menerima pahala dan rezeki berupa pemenuhan kebutuhan hidup lainnya, bila mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma. Pada hari itu umat Hindu di Bali memuja Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa.
  4. Hari raya Pagerwesi di hari Rabu, yang dapat diartikan sebagai suatu pegangan hidup yang kuat bagaikan suatu pagar dari besi yang menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah digunakan dalam fungsi kesucian, dapat dipelihara, dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan umat manusia selamanya.

Renungan Dalam Pagerwesi

Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini.  Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Banten Dalam Pagerwesi

Yadnya (Banten) yang paling utama disebutkan pada hari raya Pagerwesi yaitu :
  • Untuk Para Pendeta (Purohita) adalah “Sesayut Panca Lingga” sedangkan perlengkapan  tetandingan bantennya :
  • Daksina,
  • Suci Pras penyeneng, dan
  • Banten Penek.
    • Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi sebagai pemujaan (yoga samadhi) bagi para Pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan.
  • Dan Bagi umat kebanyakan yadnya (banten) disebutkan adalah;
    • natab Sesayut Pagehurip,
    • Prayascita,
    • Dapetan.
    • Tentunya dilengkapi Daksina,
    • Canang, dan
    • Sodan.
    • Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu
      • Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta,
      • dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.
Semoga pemaparan dalam artikel ini tentang Hari Raya Pagerwesi dapat bermanfaat bagi semeton.Suksma…


Sumber : Inputbali

0

Makna Melasti

Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa, letuhing bhuwana. (Lontar Sang Hyang Aji Swamandala).

Maksudnya: Melasti adalah meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata manifestasi Tuhan Yang Mahaesa untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam.

Setiap Sasih Kesanga umat Hindu di Nusantara mengadakan Upacara Yadnya yang disebut melasti yang dilanjutkan dengan nyejer. Ritual melasti dan nyejer ini sebagai pendahuluan dari Hari Raya Nyepi. Melasti, Nyejer dan Nyepi sebagai kegiatan keagamaan Hindu untuk memperingati Tahun Baru €aka.

Hakikat semua perayaan keagamaan Hindu tersebut sebagai suatu proses evaluasi penyelenggaraan kehidupan yang dilakukan setiap tahun. Proses evaluasi ini amat dibutuhkan untuk mencermati penyelenggaraan kehidupan di bumi ini agar senantiasa berada dalam jalur yang benar sesuai dengan ketentuan pustaka suci Weda.

Kutipan Lontar Sang Hyang Aji Swamandala di atas itu, menjelaskan empat tujuan Melasti. Sedangkan tujuannya yang tertinggi dinyatakan dalam Lontar Sunarigama yang dinyatakan dalam bahasa Jawa Kuno sbb: ”Melasti ngaran amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara. ” Maksudnya: Dengan Melasti mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudra.

Dua kutipan Lontar ini, sudah amat jelas makna ritual Melasti itu sebagai proses untuk mengingatkan umat manusia akan makna tujuan hidupnya di bumi ini. Tuhan telah menciptakan berbagai sumber alam sebagai wahana dan sarana kehidupan bagi umat manusia hidup di bumi ini. Untuk hidup di bumi ini hendaknya menggunakan sari-sari alam ciptaan Tuhan. Ini artinya hendaknya dihindari mengeksploitasi sumber alam ini secara berlebihan. Untuk melakukan hal itu, umat manusia dimotivasi dengan ritual sakral tiap tahun dengan Upacara Melasti.
Posting : LYAKBALI
Dari kutipan Lontar tersebut di atas, maka Melasti itu ada empat sasarannya yaitu:
1. Ngiring Prawatek Dewata. Artinya membangun sikap hidup untuk senantiasa menguatkan sraddha bhakti serta patuh pada tuntunan para Dewata sinar suci Tuhan. Umat Hindu di Bali melakukan Upacara Melasti dengan melakukan pawai keagamaan yang di Bali disebut mapeed untuk melakukan perjalanan suci menuju sumber air seperti laut dan sungai atau mata air lainnya yang dianggap memiliki nilai sakral secara keagamaan Hindu. Saat perjalanan suci dengan mapeed itu umat diharapkan melakukan bhakti pada Dewata manifestasi Tuhan dengan simbol-simbol sakral yang lewat di depan rumahnya atau sembahyang bersama saat sudah di tepi laut atau sungai.

2. Anganyutaken Laraning Jagat. Ini artinya dengan Upacara Melasti umat dimotivasi secara ritual untuk membangkitkan spiritual kita untuk berusaha menghilangkan Laraning Jagat (Sosial care). Istilah Laraning Jagat ini memang sulit sekali mencari padanannya agar ia tidak kehilangan makna. Kata Lara dan Jagat sudah sangat dipahami oleh umat Hindu di Bali. Lara ini agak mirip dengan hidup menderita.

Hanya yang disebut dengan Lara tidaklah semata-mata orang yang miskin materi. Banyak juga orang kaya, orang berkuasa, orang yang berpendidikan tinggi, keturunan bangsawan hidupnya Lara. Orang kaya menggunakan kekayaannya untuk membangkitkan kehidupan yang mengumbar hawa nafsu. Kekuasaan dijadikan media untuk mengembangkan ego untuk bersombong-sombongria, atau menggunakan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan pribadi bukan untuk mengabdi pada mereka yang menderita. Demikian juga banyak ilmuwan menjadi sombong karena merasa diri pintar.

Banyak juga orang yang meninggi-ninggikan kewangsaannya. Sifat-sifat yang negatif itulah yang akan menimbulkan disharmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Jadinya menghilangkan Laraning Jagat hendaknya diaktualisasikan untuk menghilangkan sumber penderitaan masyarakat baik yang bersifat Niskala maupun yang bersifat Sekala.

3. Anganyutaken Papa Klesa. Para Pinandita maupun Pandita dalam mengantarkan Upacara Keagamaan Hindu selalu mengucapkan Mantram: Om Papa Klesa Winasanam. Mantram ini hampir tidak pernah dilupakan. Arti Mantram tersebut adalah: Ya Tuhan semoga Papa Klesa itu terbinasakan.

Hidup yang ”papa” disebabkan oleh sifat-sifat klesa yang mendominasi diri pribadi manusia. Mengenai Klesa sebagai lima kekuatan negatif yang dibawa oleh Unsur Predana sudah diterangkan di bagian depan dari tulisan ini. Lima klesa (Awidya, Asmita, Raga, Dwesa dan Abhiniwesa) inilah yang harus diatasi agar jangan hidup ini menjadi papa. Hidup yang papa itu adalah hidup yang berjalan jauh di luar garis Dharma yang membawa orang semakin jauh dari Tuhan.

4. Anganyuntaken Letuhing Bhuwana. Yang dimaksud dengan Bhuwana yang ”Letuh” adalah alam yang tidak lestari. Letuh artinya kotor lahir batin. Atau dalam istilah Sarasamuscaya disebut Abhuta Hita artinya alam yang tidak lestari. Bhuta artinya unsur yang ada. Bhuta itu ada lima sehingga disebut Panca Maha Bhuta. Lima Bhuta tersebut adalah: pertiwi, apah, bayu, teja dan akasa. Lima unsur alam itulah yang wajib kita jaga kesejahteraannya.

Jangan lima unsur Bhuta itu diganggu kelestariannya. Jadinya Upacara Melasti itu adalah untuk menanam nilai-nilai filosofis tersebut, sehingga setiap orang termotivasi untuk melakukan tiga langkah tersebut dalam hidupnya secara sadar dan terencana sebagai wujud bhakti pada Tuhan.

Tentunya Upacara Melasti akan menjadi mubazir kalau bhakti kita pada Tuhan tidak diwujudkan untuk membenahi diri dengan menjadikan informasi agama sebagai kekuatan melakukan transformasi diri menghilangkan Panca Klesa. Dari diri yang berubah itulah, kita meningkatkan kepedulian kita pada perbaikan sosial (Sosial Care) yang disebut ”Anganyutaken laraning jagat”. Selanjutnya Melasti untuk memotivasi umat melakukan upaya pelestarian alam lingkungan.


0

Rentetan Hari Raya Galungan

1. TUMPEK WARIGA
Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

2. ANGGARA KASIH JULUNGWANGI
Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

3. BUDA PON SUNGSANG
Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma).
Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma.
Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

4. SUGIAN JAWA
Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

5. SUGIAN BALI
Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

6. PENYEKEBAN
Hari Redite, Paing, Wuku Dungulan, atau 3 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Galungan yang menggoda manusia untuk berbuat adharma. Galung dalam Bahasa Kawi artinya perang; Bhuta Galungan adalah sifat manusia yang ingin berperang atau berkelahi.
Manusia agar menguatkan diri dengan memuja Bhatara Siwa agar dijauhkan dari sifat yang tidak baik itu. Secara simbolis Ibu-ibu memeram buah-buahan dan membuat tape artinya nyekeb (mengungkung/ menguatkan diri).

7. PENYAJAAN
Hari Soma, Pon, Wuku Dungulan, atau 2 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Dungulan yang menggoda manusia lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Dungul dalam Bahasa Kawi artinya takluk; Bhuta Dungulan adalah sifat manusia yang ingin menaklukkan sesama atau sifat ingin menang.
Manusia agar lebih menguatkan diri memuja Bhatara Siwa agar terhindar dari sifat buruk itu. Secara simbolis membuat jaja artinya nyajaang (bersungguh-sungguh membuang sifat dungul).

8. PENAMPAHAN 
Posting : LYAKBALI
Hari Anggara, Wage, Wuku Dungulan, atau 1 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Amangkurat yang menggoda manusia lebih-lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Amangkurat dalam Bahasa Kawi artinya berkuasa. Bhuta Amangkurat adalah sifat manusia yang ingin berkuasa.
Manusia agar menuntaskan melawan godaan ini dengan memuja Bhatara Siwa serta mengalahkan kekuatan Sang Bhuta Tiga (Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat).
Secara simbolis memotong babi “nampah celeng” artinya “nampa” atau bersiap menerima kedatangan Sanghyang Dharma. Babi dikenal sebagai simbol tamas (malas) sehingga membunuh babi juga dapat diartikan sebagai menghilangkan sifat-sifat malas manusia.
Sore hari ditancapkanlah penjor lengkap dengan sarana banten pejati yang mengandung simbol “nyujatiang kayun” dan memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma yang dituangkan dalam Catur Weda di mana masing-masing Weda disimbolkan dalam hiasan penjor sebagai berikut:
lamak simbol Reg Weda,
bakang-bakang simbol Atarwa Weda,
tamiang simbol Sama Weda, dan
sampian simbol Yayur Weda.
Di samping itu penjor juga simbol ucapan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning.
Pada sandyakala segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan.

9. GALUNGAN
Hari Buda, Kliwon, Wuku Dungulan, merupakan perayaan kemenangan manusia melawan bentuk-bentuk adharma terutama yang ada pada dirinya sendiri. Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan di Pura, Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu.

10. MANIS GALUNGAN
Hari Wraspati, Umanis, Wuku Dungulan, 1 hari setelah Galungan, melaksanakan Dharma Santi berupa kunjungan ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan syukur atas kemenangan dharma dan mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.
Malam harinya mulai melakukan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga, mohon agar kemenangan dharma dapat dipertahankan pada diri kita seterusnya.
Pemujaan di malam hari selama sembilan malam sejak hari Manis Galungan sampai hari Penampahan Kuningan disebut sebagai persembahyangan Nawa Ratri (nawa = sembilan, ratri = malam) dimulai berturut-turut memuja Bhatara-Bhatara: Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa).

11. PEMARIDAN GURU
Hari Saniscara, Pon, Wuku Dungulan, 3 hari setelah Galungan merupakan hari terakhir Wuku Dungulan meneruskan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga khususnya Bhatara Brahma.

12. ULIHAN
Hari Redite, Wage, Wuku Kuningan, 4 hari setelah Galungan, Bhatara-Bhatari kembali ke Kahyangan, persembahyangan di Pura atau Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih atas wara nugraha-Nya.

13. PEMACEKAN AGUNG
Hari Soma, Kliwon, Wuku Kuningan, 5 hari setelah Galungan. Melakukan persembahan sajen (caru) kepada para Bhuta agar tidak mengganggu manusia sehingga Trihitakarana dapat terwujud.

14. PENAMPAHAN KUNINGAN
Hari Sukra, Wage, Wuku Kuningan, 9 hari setelah Galungan. Manusia bersiap nampa (menyongsong) hari raya Kuningan. Malam harinya persembahyangan terakhir dalam urutan Dewata Nawa Sanga, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Tri Purusha (Sisa, Sada Siwa, Parama Siwa).

15. KUNINGAN
Hari Saniscara, Kliwon, Wuku Kuningan, 10 hari setelah Galungan. Para Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan sampai tengah hari.
Manusia mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas wara nugrahanya berupa kekuatan dharma serta mohon agar kita senantiasa dihindarkan dari perbuatan-perbuatan adharma.
Secara simbolis membuat sesajen dengan nasi kuning sebagai pemberitahuan (nguningang) kepada para preti sentana agar mereka mengikuti jejak leluhurnya merayakan rangkaian hari raya Galungan – Kuningan.

Selain itu menggantungkan “tamiang” di Palinggih-palinggih sebagai tameng atau perisai terhadap serangan kekuatan adharma.

16. PEGAT UWAKAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Paang, satu bulan atau 35 hari setelah Galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian Galungan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan. Berata-berata nguncal balung berakhir, dan selanjutnya roda kehidupan terlaksana sebagaimana biasa.


0

Sugian Jawa lan Sugian Bali

 Makna dari Sugihan Jawa dan Sugihan Bali
Bagi masyarakat Bali, terutama yang beragama Hindu pasti sering mendengar istilah sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Dan sepertinya masih ada beberapa yang belum paham akan makna sebenarnya dari kedua istilah tersebut.Menjelang hari raya Galungan, umat Hindu Bali melakukan upacara Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Apa maknanya ?

Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba adalah sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrokosmos) atau alam semesta. Sugihan Jawa ini jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang.

Kata Sugihan Jawa berasal dari urat kata Sugi, yang artinya membersihkan, dan Jaba artinya luar. Jadi hari Sugihan Jawa tersebut bukanlah hari Sugihan bagi para pengungsi leluhur-leluhur dari Jawa pasca bubarnya Majapahit. Maksud sebenarnya adalah pembersihan Bhuana Agung atau alam semesta, baik sekala maupun niskala.

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan bahwa Sugihan Jawa merupakan “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh” (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan yang terpenting adalah membersihkan badan fisik dari debu kotoran dunia maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura.

Posting : LYAKBALI
Sementara Sugihan Bali jatuh pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang (sehari setelah Sugihan Jawa). Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri, sesuai dengan lontar Sundarigama: “Kalinggania amrestista raga tawulan” (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos), yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. 

Manusia tidak saja terdiri dari badan fisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan fisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat, sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita menjelang hari raya



0

Sanggah Cucuk & Tawur Agung Kesanga




Olih : Pinandita Pasek Ketut Adi Wibardi

Sanggah cucuk berasal dari kata sanggah yang berarti penyanggah/menopang, dan cucuk yang berarti pemucuk. Jadi dapat diartikan sanggah cucuk ini adalah pertemuan antara penyangga dan pemucuk, maka dari itu sanggah cucuk berbentuk segi tiga. Selain itu fungsi sanggah cucuk adalah sebagai upasaksi dari pelaksanaan ritual bhuta yadnya khususnya pecaruan.
Dalam kaitannya dengan tawur agung kesanga, sanggah cucuk ini dipakai sebagai salah satu sarana upasaksi yang pasang di samping lebuh atau sebelah pintu/kori masuk rumah. Sedikit pengetahuan tentang tawur agung kesanga, dapat dijelaskan bahwa tawur berasal dari kata nawur atau membayar utang. Lalu kepada siapa kita membayar utang? Kepada para bhuta kala yang mana utang kepada bhuta kala dalam tri rna termasuk dalam utang kepada dewa rna. Dari utang kepada bhuta inilah perlu dilaksanakannya bhuta yadnya yang tujuannya adalah agar energi-energi negatif dari para bhuta kala tidak mengganggu umat manusia di dunia ini. Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu dengan sang hyang tunggal, maka dari itu pada mantram ngalukat bhuta disebutkan :
“Om lukat sira sang bhuta dengen masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring bhatara guru, lukat bhatara guru masurupan ring sang hyang tunggal, lukat sang hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning paran, apan sang hyang sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah swaha”
Dikatakan tawur agung kesanga karena dilaksanakan serentak di seluruh daerah dan juga pada tilem kesanga/tilem caitra adalah tilem yang paling gelap sehingga merupakan hari yang paling baik untuk melaksanakan bhuta yadnya.
Untuk pelaksanaan upacara tawur agung kesanga di tingkat rumah dibagi menjadi tiga bagian sebagai haturan kepada Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari. Berikut penjelasannya :
Di halaman Merajan Kamulan dihaturkan segehan agung cacahan 11 tanding atau yang lebih sederhana satu segehan berwarna 5 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara, tengah warna brumbun) tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari, mantramnya :
“Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”
Di pekarangan rumah dihaturkan segehan manca warna 9 tanding berisikan daging ayam brumbun (ayam dengan bulu warna-warni), atau yang lebih sederhana 1 segehan berwarna 4 (arah timur putih, merah selatan, kuning barat, hitam utara), tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada Sang Kala Bhucari, mantramnya :
“Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketenganpinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”
Di lebuh rumah atau pamedal karang dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan. Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk tersebut digantungkan juga sujang (batang bambu kecil 2 biji masing-masing diisi arak & brem) Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.
Di sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan manca warna 9 tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja. Selain itu juga dihaturkan segehan cacah 108 (satus kutus) berisi jeroan mentah, segehan agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala. Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga. Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha.
mantramnya :
“Ih Durgha Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”
Dalam melaksanakan tawur di atas, hendaknya nunas tirtha caru dan tirtha kahyangan tiga di masing-masing desa pakraman. Selain itu juga pelaksanaan tawur agung kesanga di tingkat rumah tangga, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi desa pekraman/lingkungan sekitar.
Pesan terakhir, maknailah setiap upacara yang kita lakukan karena dengan begitu setiap yadnya demi yadnya kita lakukan akan mengubah tata cara kita berpikir, perkataan, dan perbuatan kita mengarah ke arah yang lebih baik. Disebutkan dalam Manava Dharma Sastra III.97

Nacyanti nawyah kawyani naranama wijanatam, bhasmi bhutesu wipresu mohad dattani datrbhih
Arti Bebas : Persembahan yang dilakukan tanpa diketahui maknanya adalah sia-sia, sama dengan mempersembahkan kebodohannya dan persembahan itu tak ada bedanya dengan segenggam abu....

Rahajeng Rahina Jagat Nyepi Tahun Baru Çaka 1937
Om loka samstha sukinoh bhavantu 
Om shanti shanti shanti om

0

Makna Hari Raya Galungan

Sejarah Galungan, dapat kita petik dari pustaka Kidung Panji Malat Rasmi, yang diperkirakan pada jaman Singhasari / Jenggala, pada abad ke-11 di Jawa Timur, Galungan sudah dirayakan. 
Demikian pula dalam kitab Pararaton, jaman akhir Kerajaan Majapahit, pada abad ke-16,  perayaan yang semacam ini sudah juga dirayakan. Tegasnya di Jawa, Galungan itu sudah sejak lama dirayakan. 
Demikian pula di pulau Bali, hal ini dapat kita maklumi bahwa Bali lebih-lebih pada  tahun 1343 Masehi,  Bali banyak sekali menerima pengaruh budaya dan agama dari Majapahit, “apan sima  acara ring wilwatikta winawa ring bangsul“.
Kalau diperhatikan dari segi arti kata “galungan” artinya berperang, apa yang harus kita perangi ? Kalau kita perhatikan isi dari pustaka-pustaka yang ada di Bali, seperti : Lontar Jaya Kasunu, Mayadanawantaka, Sundarigama, dan banyak lagi pustaka yang memuat tentang Galungan.

Parisada Hindu Dharma, menyimpulkan, bahwa upacara Galungan, diberi arti ” Pawedalan Jagat” atau “Oton Gumi“. Hal ini tidak berarti bahwa Gumi/Jagat itu lahir pada hari Buda Kliwon wuku Dungulan. Melainkan pada hari itulah umat Hindu di Bali khususnya, menghaturkan “maha suksmaning idhep” kehadapan Ida Sanghyang Widhi beserta dengan manifestasi-Nya, atas terciptanya dunia beserta isinya. Pada hari Galungan-lah umat Hindu “angayubaya” bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa, yang telah menciptakan alam dengan segala isinya.
Itulah keluhuran arti dari pada upacara itu. Ngaturang maha suksmaning idhep dan angayubagya, adalah suatu pertanda dengan jiwa yang sadar, kita telah berhutang budhi.

Sehubungan dengan pelaksanaan upacara itu pada dasarnya telah diberi tuntunan oleh para orang-orang suci, umat merayakannya dan persiapannya jauh hari sebelum Galungan. Dalam ajaran Hindu, bahwa perayaan Galungan sudah mulai dipersiapkan 25 hari sebelumnya, yakni pada Saniscara Kliwon Wariga, yang disebut Tumpek Wariga, Tumpek Pengarah, Tumpek Uduh, atau denga kata lain “Tumpek Pengumuman“.
Pada hari Tumpek ini adalah turunnya Sanghyang Dharma, untuk memberi tuntunan kepada umat manusia agar ingat dan sadar akan kewajibannya. Dalam hal ini yang dipentingkan adalah suatu “sikap bathin” yang mendalam, menjalankan Dharma, khususnya swadharma.
Dalam pustaka Sundarigama, dalam hubungannya dengan Galungan, mengajarkan kepada kita, bahwa berturut-turut sejak Redite Paing Dungulan, turunnya Sang Kala Tiga. Yang dimaksud dengan Sang Kala Tiga itu, ialah : Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulandan Sang Bhuta Amangkurat. Mereka adalah simbul “kala” yang berarti kekuatan alam, yang mendapat pengaruh “prana“, maka sering disebut Bhuta Kala. Bhuta Kala itu sering menggoda kehidupan manusia, maka itulah kita harus teguh menjalankan Dharma. Agar supaya kita tidak dapat dikuasai oleh Adharma.
Kalau kita perhatikan tentang Sang Kala Tiga itu, yakni :
1.     Sang Bhuta Galungan. Galungan berarti berperang, bertempur atau berjuang. Pada hari Redite kita telah kedatangan Kala, yang menyerang kita. Apakah yang harus kita lakukan ?
2.     Sang Bhuta Dungulan. Dungulan artinya mengalahkan atau menguasai. Apakah kita harus menyerah diri ?
3.     Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat berarti menguasai dunia beserta isinya. Maksudnya menguasai Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Bagaimana caranya agar kita tidak dapat dikuasai ?

Maka pada hari-hari itulah kita harus waspada, mengendalikan diri, “den prayatna anyekung jnyana nirmala, lamakane tan kasusupan“. Hendaknya umat meneguhkan hati agar jangan sampai dikuasai atau dipengaruhi oleh sifat-sifat Adharma. Ingatlah ada upacara “mabyakala” pada hari Panampahan Galungan. Menurut pustaka lontar Sundarigama dan Jaya Kasunu, pada hari Galungan, Ida Sanghyang Widhi Wasa menurunkan anugrah berupa kekuatan iman dan kesucian bathin untuk dapat memenangkan Dharma dari Adharma.

Apakah Dharma itu ? Dalam Agastya Parwa disebutkan, Dharma adalah : Tapa, Yadnya danKirti. Sedangkan Adharma adalah krodha, moha dan loba. Tapa artinya “umeret ikang indriya“, artinya harus mampu mengendalikan diri. Yadnya artinya “manghanaken homa“, artinya melakukan korban dengan tulus ikhlas. Kirti artinya “manghanakaen yasa“, yakni berbuat yang baik dan benar. Sedangkan Krodha artinya sifat pemarah, Moha artinya kebingungan, Loba artinya oba atau tamak.
Sedangkan dalam Wrehaspati Tattwa, yang disebut dengan Dharma, yaitu :

1.     Sila, artinya berpegang teguh pada prilaku yang baik dan benar.
2.     Yajna, artinya melakukan korban dengan tulus ikhlas.
3.     Tapa, artinya mengendalikan diri.
4.     Dana, artinya dapat melakukan sedekah.
5.     Prawrajya, artinya dapat menjauhkan diri dari kepentingan-kepentingan duniawi.
6.     Bhiksu, artinya hidup suci.
7.     Yoga, artinya selalu dapat menghubungkan diri dengan Sanghyang Widhi.
-

Hubungan Galungan dengan Ngusabha Desa
Ngusabha Desa adalah upacara mohon kerahayuan jagat, khusunya palemahan Desa. Jika diperhatikan pada saat Upacara Ngusabha Desa, yang dipuja adalah Ida Sanghyang Widhi Wasa, dalam manifestasi-Nya sebagai Dewi Pretiwi dan Dewi Gangga. Maka pertemuan tanah dengan air akan menimbulkan kesuburan dan keselamatan.
Jika memperhatikan makna Galungan dan makna Ngusabha Desa, mempunyai hubungan dan makna filosofis yang amat mendalam. Galungan sebagai lambang penciptaan alam beserta isinya, sedangkan Ngusabha Desa adalah memohon kesejahtraan alam.
Dengan demikian Ngusabha Desa yang juga dilaksanakan pada Rarahinan Galungan, memberikan makna yang sungguh-sungguh luar biasa. Semoga dengan berlangsung upacara ini masyarakat khususnya mendapatkan anugrah kesejahtraan lahir bathin, aman, sejahtra dan rahayu.
Kesimpulan yang dapat diambil dari uraian di atas antara lain :
1.     Dalam menyambut dan merayakan Rarahinan Galungan, hendaknya bergembiralah atas waranugraha Hyang Widhi dalam batas-batas kesusilaan agama.
2.     Terangkan hati, agar menjadi “sura dhira dharaka“, berani, kokoh dan kuat, dalam menghadapi hidup di dunia.
3.     Hemat dan sederhanalah dalam menggunakan biaya.
4.     Mohon waranugraha Hyang Widhi dengan ketulusan dan kerendahan hati
5.     Jalankan Dharma, lebih-lebih Swadharma dengan sepenuh hati.



Penulis : I Wayan Adi Sudiatmika

0


Denkayu Delodan - © Copyright 2012 - All rights reserved
Powered by Blogger